Rabu, 17 Juli 2019

Ngumboro sukmo

70 LANGKAH YANG WAJIB DIPERHATIKAN SAAT MELAKUKAN MEDITASI *KESAH*
1.Di antara silih berganti siang & malam, tersimpan rahasia tentang istirahat. Tentang perjalanan diri merasuki diri sendiri.(BUROG....mlebu nang rogone)
2.Mengolah diri mengenal diri sendiri. Diri sbg Poros & semesta sbg Pusaran. Diri sbg Makro Kosmos & semesta sbg Mikro Kosmos
3.Diri sbg Jagat Agung & semesta sbg Jagat Alit. Dalamnya laut bisa diukur, dalamnya hati siapa yang tahu. Diri sbg Khalifah. 4.Maka dimulai dari mengenal 8 Baju Kebesaran Diri, yaitu "ruang, waktu, rupa, warna, aroma, gerak, diam, dan batas."
5.Delapan penjuru Ruang: timur, tenggara, selatan, timur laut, barat, barat laut, utara, barat daya.
6.Delapan penjuru Waktu: Isya, Tahajud, Fajar, Subuh, Dhuha, Dhuhur, Ashar, Maghrib.
7.Delapan penjuru Rupa: bayi, anak-anak, remaja, dewasa, tua, laki-laki, perempuan, wandu (bukan laki bukan perempuan).
8.Delapan penjuru Aroma: wangi, asem/kecut, apek, tengik, bacin, sengak, bedak/nyegrak, lengur. (cari sendiri terjemahannya)
9.Delapan penjuru Warna: merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu, dan putih. Hitam bukan Warna,Hitam disebut GELAP.
10.Delapan penjuru Gerak: berdiri, rukuk/bungkuk, sujud, duduk, mlumah/berbaring terlentang, tengkurap, jalan, berpaling/noleh.
11.Delapan penjuru Diam: membisu, memejam/membuta, menuli, megeng/nahan nafas, nahan kencing, nahan berak, mematung, njingkrung
12.Delapan penjuru Batas: atas, bawah, kiri, kanan, depan, belakang, dalam, luar. 13.Mengenal Baju Kebesaran Diri tanpa mengenal Diri sendiri adalah konyol. 14.Diri sendiri terdiri atas Tujuh Anasir Tampak dan Tujuh Anasir Tidak Tampak. (bumi pitu langit pitu)
15. Tujuh Anasir Tampak yg pertama adalah bulu, kulit, daging, tulang, sumsum, urat, darah.
16.a. Tujuh Anasir Tampak yg kedua adalah Nyawa, Jiwa, Sukma, Ruh, Hati, Badan Wadag/Raga, dan Bayangan.
16.b. Dikategorikan sbg Tampak karena pada tahap tertentu dalam ketujuhnya menampakkan diri.
17.a. Tujuh Anasir Tidak Tampak (salah satunya) adalah Ahadiyah, Wahdah, Wahidiyah, Arwah, Ajsam, Mitsal, Insan Kamil.
17.b. Dalam kesufian ketujuhnya dikenal juga sbg Martabat Penciptaan. Dalam ketujuhnya adalah Sangkan Paran, pintu menuju Pulang
18. Dalam Islam, Tujuh Anasir itu dirawat dg Tujuh Titik Wudhu: telapak tangan, mulut, hidung, muka, lengan, telinga, kaki. 19. Dalam Islam, Tujuh Anasir itu dirawat juga dg berserah Tujuh Titik Sujud: 1 kening, 2 tapak tangan, 2 lutut, 2 ujung kaki.
20. Setelah itu, barulah memulai Ragawi dalam Tujuh Tahap: Lapang/Leluasa » Tenang » Hening » Kosong » Hampa » Fana » Tiada.
21. sebaiknya dimulai dari tahap Lapang/Leluasa. Pilih waktu lapang & ruang leluasa. Pada level tertentu, bisa dalam sempit
22. Kendurkan baju sakral agar keringat tak ganggu kenyamanan belajar
23. Pilih kain bawahan celana panjang longgar.Meski dlm hal ini bukan ritual agama, menutup aurat adalah prasyarat utama.
24. Kendurkan ikatan kain mori agar tubuh leluasa mengambil sikap.
25. Tidak disarankan di sudut ruang, depan/belakang pintu, bawah pilar/penyangga horisontal rumah, dapur, kamar mandi/kakus, sumur
26. Disarankan melepas arloji, cincin, kalung, anting, dan aksesori lain yg dikhawatirkan ganggu kelancaran peredaran darah.
27. Setelah prasyarat Lapang/Leluasa terpenuhi, tentukan Waktu Mulai tapi jangan atur Waktu Selesai Biarkan ngalir apa adanya.
28. Sebaik baiknya dimulai dg tubuh telah bersuci. Sudah cebok setelah "pup" & "pee", mandi setelah senggama, wudhu karena batal/najis.
29. Dari banyak posisi baik mulai belajar dari posisi duduk bersila. Leher & punggung tegak, kepala hadap depan, tangan rileks.
30. Taruh pangkal pergelangan tangan di sudut lutut agar posisi ini terkunci. Dari empat sisi, tubuh membentuk segitiga/piramida.
31. Saat bersila, disarankan memilih posisi betis yg tidak saling tindih. Selipkan betis kiri di antara paha dan betis kanan.
32. Telapak kaki lurus segaris betis, tak dibiarkan membelokkan garis itu. Jangan sampai betis & telapak kaki membentuk letter L.
 33. Tak perlu menanti pikiran kosong utk memulai Masuki tahap Tenang. Pikirkan hal2 itu secara tenang. Pilah2lah secara tenang.
34. Jika sudah cukup tenang, mulailah pikirkan mengapa & bagaimana pikiranmu memikirkan pikiran itu. Pikirkan pikiranmu.
35. Pikiran menjadi tunggal: memikirkan pikiran. Memusat pada diri sendiri. Bukan lagi pada obyek obyek pikiran & hal hal di luar itu.
36.Pandanglah ujung batang hidung. Dlm Jawa, disebut Pucuking Gunung Tursina. Dlm mitologi Musa, disebut Puncak Sinai.
37. Tatapan mata ke ujung batang hidung lambat-laun diikuti gerakan menutup mata secara alami & tenang. Tutuplah sempurna. 38. Gerakan menutup mata yg sempurna menyebabkan bola mata sempat menjuling ke tengah. Seolah terkumpul di antara dua alis.
39. Dlm level tertentu, setelah cukup belajar gerakan mata menjuling ke tengah bisa sampai membalikkan mata. Langsung "hilang".
40. Kelopak bisa menutup mata, tapi daun teli
40. Kelopak bisa menutup mata, tapi daun telinga tak bisa menyumbat pendengaran.
Telinga mulai memilih yg akan didengarkan.
41. Bedakan antara terdengar, mendengar, dan mendengarkan. Mulailah memasuki tahap Hening dg menghapus suara suara yg terdengar.
42. Kesah adalah membangun kesadaran dg membangunkan kesadaran.
Banyak sekali hal tak berguna yg terdengar sambil-lalu.
Hapus dlm Hening
43. a. Mendengar adalah to hear it as it is.
Nyaris sambil-lalu.
Mendengarkan adalah to listen it with passion & curiousity. Aktif.
43. b. Pelan pelan berhenti Mendengar & mulai Mendengarkan dg memilih suara/bunyi utk didengarkan: detak jam, degup jantung, napas.
44. Mendengarkan napas adalah bagian terakhir sebelum mengosongkan diri dan sirna dalam kebisingan sunyi.
45. Bunyi detak jantung yg teratur adalah yg termudah utk diikuti & menghanyutkan suasana hingga khusyu. Sampai sampai bunyi lain lenyap.
46. a Setelah mampu mengheningkan diri dg mendengarkan detak jantung mulailah ikuti degup jantung yg lbh cepat. Menenggelamkan.
46. b. Belajar mendengarkan/merasakan degup jantung bisa dilakukan di luar dg memegang kuat2 urat nadi di pergelangan tangan.
47. Peralihan dari mendengarkan detak jantung ke mendengarkan degup jantung sebaiknya selembut mungkin. Tak perlu buru buru. Nikmati.
48. Saat mendengarkan degup jantung, temukan celah antara bunyi "lup"(bahasa medis systole)"duk"(dyastole) dg bunyi "lup-duk" berikutnya, lalu teroboslah. Masuk celah.
49. Jika keheningan diri bisa menerobos celah antara dua degup jantung, perjalanan menuju Diri baru saja dimulai. Selamat datang dialam Sunya luri.
50. a. Begitu Diri memasuki celah antara dua degup jantung, mata batin akan terbuka & merasakan keindahan "melihat" garis ragawi.
50. b. Garis ragawi berupa garis di bagian terluar badan yg membentuk sekujur tubuh.
Mirip selubung.
Selaput atmosfir.
Nyala merah.
Memancarkan sinar CAKRA.
50. c. Pengalaman pertama "melihat" garis ragawi ini menghanyutkan.
Boleh berlama lama. Tak usah buru buru. Take your time seing your self
51.a. Tahap Hening naik ke tahap Kosong setelah dg sendirinya mata batin terbimbing mengarahkan "penglihatan" ke ubun ubun.
Ketajaman indera pengelihatan mulai terbentuk.
51.b.Sesepuh menyebut ubun ubun sbg "Tanajul Torkeh", "Tetenger" atau "Nukat Ghaib".
Istilah tidak penting.
Fokus tahap tahap saja
52. Ada garis yg sgt berbahaya.
Di depan: ubun ubun -» telak/ajal -» ulu hati. Di belakang: ubun ubun-» tulang ekor -» pangkal pantat.
53. Setelah perhatian terpusat di ubun-ubun, tariklah napas panjang sambil rasakan energi dari pangkal tulang ekor merambat naik.
54a. Embuskan napas, lalu mulailah melepaskan pendengaranmu dari degup jantung. Kini dengarkanlah pendengaranmu sendiri.
54b. Mendengarkan intisari bunyi dg frekuensi tertinggi.
Sampai menusuk. Memenuhi kepala.
55. Lanjutkan nikmati keheningan dalam kebisingan itu dalam Atma/mutiara otak/inside of mind.
Tidak lagi dg pendengaran.
56. Atma berada di tengah bagian dalam kepala.
Tersambung ubun-ubun di atas, telak di bawah, kening di depan, githok di belakang.
57a. Tersambung tapi belum menyambung jika olah napas belum dimulai.
Keempatnya disambungkan dg Napas, Anpas, Tanapas, Nupus.
57b. Napas = tarikan oksigen,
Anpas = menahan tarikan oksigen, Tanapas = pengolahan oksigen,
Nupus = pembuangan karbondioksida.
57c. Perlu latihan di luar /alam bebas
utk melancarkan Napas, Anpas, Tanapas, Nupus ini.
Sebab, keempat tahap ini memiliki 4 jalan sendiri.
57d. Napas = tarik udara dg lubang hidung kiri, Anpas = masukkan udara pada paru paru kiri,
Tanapas = pindahkan udara ke paru kanan,
Nupus = buang udara lewat lubang hidung kanan.
57e. Lakukan tahap demi tahap dg isyarat hati.
Membatin, sebelum betul betul merasakannya karena terlatih.
akan bisa karena terbiasa.
58. Bila Anda kesulitan mempraktekkan Napas, Anpas, Tanapas, Nupus, cukuplah dg Napas-Nupus: Tarik-Embuskan. Bernapas teratur.
59. Tarik Napas sampai tuntas. Terasa sampai ke pangkal hidung.
Megeng atau tahanlah59. Tarik Napas sampai tuntas. Terasa sampai ke pangkal hidung.
Megeng atau tahanlah sebentar.
Lalu, embuskan sampai penghabisan.
60a. Ketika menarik Napas, dzikirkan "Huuu...". Saat mengembuskan Nupus, dzikirkan "Allaaah..." Nikmati ritme berkesinambungan.
60b. Bolehkah mendaraskan kata lain selain "Hu-Allah" dalam Napas-Nupus Silakan sesuai kebijakan & kenikmatan Anda.
60c. Ada aneka dzikir di tiap tahap Yg paling cepat ritme-nya adalah dzikir degup jantung. Cuma, saya tak tertarik men-tweet-kan.
61a. Jika Anda mempraktekkan Napas-Anpas, Tanapas-Nupus, dzikirkan: "Allah-Huu...Allam."
61b. Dzikir tadi dikutip dari: "Ya man Huwa, Huwa yaa man. Laa Huwa, Illaa Huwa..." "Wahai Dia, ya Dia. Tiadalah Dia, selain Dia".
61c.Yang merupakan dzikir Nabi Khidr, hamba Allah terkasih, yg menjadi Penghubung bagi Kekasih Allah yg Terpilih MenjumpaNya.
62. Sampai di tahap ini, tak terdengar-mendengar-mendengarkan lagi suara suara yang lain: detak jantung, degup jantung, bising-hening, dsb.
63. Yg ada hanya "Allah....Huu..." dan "Allam" memenuhi sekujur jiwa-raga.
Diri tenggelam di dalamnya.
Larut bersamanya. Lenyap. Melebur.
64. Yen gangsing Napas -» Anpas -» Tanapas -» Nupus muter seser, Pusaran Diri berputar memusat Poros.
Hilang ruang, hilang waktu.
65a. 5 titik Pusaran: degup jantung (dari "duk" ke "duk") bising-hening (masuk "nging" keluar "nging"), ubun2 (rotasi garis tubuh)
65b.Napas-Anpas-Tanapas-Nupus (Laa-Huu-Illaa-Huu), dan pusaran kelima yg akan tampak oleh mata batin yg tercerahkan dalam Hyang Sukma
66. Bila telah ditampakkan bagimu Pusaran yg kelima itu, tunggu hingga Poros-nya menampakkan diri. Berdoalah sebelum memasukinya. RAGA SUKMA
67. Di titik Poros itu, tampak sesosok Diri yg terlihat kecil.
Pandang figur itu dg mata batin: wujudnya menyerupai Diri Sendiri.
GURU SEJATI
68. Tataplah kedua matanya. Saling pandang. Sawang-sinawang. Melihat-Dilihat. Pada level tertentu, ini dilakukan dg mata terbuka.
69. Hati-hati. Hati-hati. Hati-hati. ELING!
70. Saat saling tatap, matamu akan otomatis geser pandang ke telinga kirinya. LEPASKAN DIRI, MASUKILAH DIDIMENSI LAIN. Selamat datang di alam MAYA
Ga usah takut memulai Silakan berlatih. Gak ada itu nyasar-nyasar...
Hentakkan dzikir "ALLAH"/ingat pada Tuhan Yang Maha Esa pasti Anda langsung kembali ke raga.
“Tafakkur sa’atin khayrun min ‘ibaadati saba’in sanatin” tafakur satu jam lebih baik dari 70thn ibadah sunnah.
KESAH MANEMBAH.
Salam SETIA HATI.

Tambahan setelah cokro geni


Tambahan
Setelah pcg hawa amarah (murka)

1.Pernapasan pondasi 10,20,40  (3ruang)
2. Senam 3 pcg tangan buka di olah garuda melayang 5 ruang
3. Senam 5 pcg 5 ruang
4. Senam 6 pcg 5 ruang
5. Senam 12 pcg 5 ruang
6. Senam 13 pcg 5 ruang

7. Senam malaikat/tegak alif kencangkan bokong mudun .....

8. Pernapasan dasar psht 5x


Hitungan
Lima ruang  ,lima kali pengulangan
1. 5,1     5,2    7,2

2. 7,1     7,2    7,2

Total puncak 1234




Dalang
Irja
Supri


Berhati2..!!!!!!!!!







Weton dino pasaran

_*Kagem pangenget-enget kula aturaken sebutan wulan lan dinten basa Jawi. Prayoginipun piyantun Jawi sampun ngantos ninggalaken Jawinipun.*_

A. *Wulan utawi Sasi :*

01. Wadana (Januari)
02. Wijangga (Februari)
03. Wiyana (Maret)
04. Widada (April)
05. Widarpa (Mei)
06. Wilapa (Juni)
07. Wahana (Juli)
08. Wanana (Agustus)
09. Wurana (September)
10. Wujana (Oktober)
11. Wujala (November)
12. Warana (Desember)

B. *Dinten:*

01. Radite (Ahad)
02. Soma (Senin)
03. Hanggara (Selasa)
04. Buda (Rabu)
05. Respati (Kamis)
06. Sukra (Jumat)
07. Tumpak (Sabtu)

*Neptunipun dinten:*

01. Ahad: 5
02. Senin: 4
03. Selasa: 3
04. Rabu: 7
05. Kamis: 8
06. Jumat: 6
07. Sabtu: 9

C. *PEKENAN/WETON*

Pon = Jenar
Wage = Cemengan
Kliwon = Kasih
Legi = Manis
Pahing = Abritan

D. *Neptu Weton:*

01. Pahing: 9
02. Pon: 7
03. Wage: 4
04. Kliwon: 8
05. Legi: 5

_*Mugi-mugi wonten paedahipun, sinambi nguri-uri budaya adiluhung kita. Manawi kirang utawi lepat nyuwun koreksi. Matur nuwun.*_

*E. Arane Wuku*

Sawuku umure seminggu, cacahe Wuku ana 30, yaiku :

Wuku Shinta
Wuku Landhep
Wuku Wukir
Wuku Kuranthil
Wuku Tolu
Wuku Gumbreng
Wuku Warigalit
Wuku Warigagung
Wuku Julungwangi
Wuku Sungsang
Wuku Galungan
Wuku Kuningan
Wuku Langkir
Wuku Arandhasiya
Wuku Julungpujut
Wuku Pahang
Wuku Kuruwelut
Wuku Marakeh
Wuku Tambir
Wuku Medhangkungan
Wuku Maktal
Wuku Wuye
Wuku Manakil
Wuku Prangbabat
Wuku Bala
Wuku Wungu
Wuku Wayang
Wuku Kulawu
Wuku Dhukut
Wuku Watugunung

*F. Arane Sasi Masehi:*

Januari, Februari, Maret, April, Mei, Juni, Juli, Agustus, September, Oktober, November, Desember

*G. Arane Sasi Arab:*

Muharram, Safar, Rabiul Awal, Rabiutsani, Jumadil Ula, Jumadil Tsaniyah, Rajab, Sya’ban, Ramadhan, Syawal, Dzulqadah, Dzulhijjah

*H. Arane Sasi Jawa:*

Sura, Sapar, Mulud, Bakda Mulud, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rejeb, Ruwah, Pasa, Sawal, Dulkangidah/Selo, Besar

*I. Arane Taun*

Alip, Ehe, Jimawal, Je, Dal, Be, Wawu, Jinakir

*J. Arane Windu*

Adi, Kuntara, Sangara, Sancaya

*K. Arane Wilangan*

Siji = Eka
Loro = Dwi
Telu = Tri
Papat = Catur
Lima = Panca
Nem = Sad
Pitu = Sapta
Wolu = Asta
Sanga = Nawa
Sepuluh = Dasa
Satus = Sata
Sewu = Sasra
Sepuluh ewu = Saleksa
Satus ewu = Sakethi
Sayuta = Sayuta

*L. Arane Wayah*

Jam 03:00 : Wayah Fajar Sidik (Bang-Bang Wetan)
Jam 04:00 : Wayah Bedhug Subuh
Jam 05:00 : Wayah Saput Lemah
Jam 06:00 : Wayah Byar
Jam 09:00 : Wayah Tengange
Jam 10:00 : Wayah Wisan Gawe
Jam 12:00 : Wayah Bedhug
Jam 13:00 : Wayah Luhur
Jam 15:00 : Wayah Lingsir Kulon
Jam 16:00 : Wayah Asar
Jam 17:00 : Wayah Tunggang Gunung
Jam 17:30 : Wayah Tribalayu
Jam 18:30 : Wayah Surub/Candrikala
Jam 19:00 : Wayah Bakda Magrib
Jam 19:30 : Wayah Isya’
Jam 20:00 : Wayah Bakda Isya’
Jam 21:00 : Wayah Sirep Bocah
Jam 23:00 : Wayah Sirep Wong
Jam 24:00 : Wayah Tengah Wengi
Jam 01.00 : Wayah Lingsir Wengi

*M. Arane Kiblat*

Lor = Utara
Kidul = Daksina
Wetan = Purwa
Kulon = Pracima

_*Mugi2 saged enget malih.*_

_Nuwun..._🙏🙏🙏

Rabu, 10 Juli 2019

Kaweruh jowoo

SANGKAN PARANING DUMADI


Dalam hidup ini, manusia senantiasa diingatkan untuk memahami filosofi Kejawen yang
berbunyi "Sangkan Paraning Dumadi". Apa sebenarnya Sangkan Paraning Dumadi? Tidak banyak orang yang mengetahuinya. Padahal, jika kita belajar tentang Sangkan Paraning Dumadi, maka kita akan mengetahuikemana tujuan kita setelah hidup kita berada di akhir hayat.


Manusia sering diajari filosofi Sangkan Paraning Dumadi itu ketika merayakan Hari Raya Idul Fitri. Biasanya masyarakat Indonesia lebih suka menghabiskan waktu hari raya Idul Fitri dengan mudik. Nah, mudik itulah yang menjadi pemahaman filosofi Sangkan Paraning Dumadi. Ketika mudik, kita dituntut untuk memahami dari mana dulu kita berasal, dan akan kemanakah hidup kita ini nantinya.

Untuk lebih jelasnya, marilah kita simak tembang dhandanggula warisan para leluhur yang sampai detik ini masih terus dikumandangkan.


Kawruhana sejatining urip/
(ketahuilah sejatinya hidup)
urip ana jroning alam donya/
(hidup di dalam alam dunia)
bebasane mampir ngombe/
(ibarat perumpamaan mampir minum)
umpama manuk mabur/
(ibarat burung terbang)
lunga saka kurungan neki/
(pergi dari kurungannya)
pundi pencokan benjang/
(dimana hinggapnya besok)
awja kongsi kaleru/
(jangan sampai keliru)
umpama lunga sesanja/
(umpama orang pergi bertandang)
njan-sinanjan ora wurung bakal mulih/
(saling bertandang, yang pasti bakal pulang)
mulih mula mulanya
(pulang ke asal mulanya)

Kemanakah kita bakal 'pulang'?
Kemanakah setelah kita 'mampir ngombe' di dunia ini?
Dimana tempat hinggap kita andai melesat terbang dari 'kurungan' (badan jasmani) dunia ini?
Kemanakah aku hendak pulang setelah aku pergi bertandang ke dunia ini?
Itu adalah suatu pertanyaan besar yang sering hinggap di benak orang-orang yang mencari ilmu sejati.

Yang jelas, beberapa pertanyaan itu menunjukkan bahwa dunia ini bukanlah tempat yang
langgeng. Hidup di dunia ini hanya sementara saja. Oleh karena itu, tidak ada salahnya jika kita menyimak tembang dari Syech Siti Jenar yang digubah oleh Raden Panji Natara dan digubah lagi oleh Bratakesawa yang bunyinya seperti ini:

"Kowe padha kuwalik panemumu, angira donya iki ngalame wong urip,
akerat kuwi ngalame wong mati; mulane kowe pada kanthil-kumanthil marang
kahanan ing donya, sarta suthik aninggal donya." 
("Terbalik pendapatmu, mengira dunia ini alamnya orang hidup, akherat itu alamnya orang mati. Makanya kamu sangat lekat dengan kehidupan dunia, dan tidak mau meninggalkan alam dunia")

Pertanyaan yang muncul dari tembang Syech Siti Jenar adalah:
Kalau dunia ini bukan alamnya orang hidup, lalu alamnya siapa?

Syech Siti Jenar menambahkan penjelasannya:
"Sanyatane, donya iki ngalame wong mati, iya ing kene iki anane swarga lan naraka, tegese, bungah lan susah. Sawise kita ninggal donya iki, kita bali urip langgeng, ora ana bedane antarane ratu karo kere, wali karo bajingan." (Kenyataannya, dunia ini alamnya orang mati, iya di dunia ini adanya surga dan neraka, artinya senang dan susah. Setelah kita meninggalkan alam dunia ini, kita kembali hidup langgeng, tidak ada bedanya antara yang berpangkat ratu dan orang miskin, wali ataupun bajingan")

Dari pendapat Syech Siti Jenar itu kita bisa belajar, bahwa hidup di dunia ini yang serba berubah seperti roda (kadang berada di bawah, kadang berada di atas), besok mendapat kesenangan, lusa memperoleh kesusahan, dan itu bukanlah merupakan hidup yang sejati ataupun langgeng.

Wejangan beberapa leluhur mengatakan:
"Urip sing sejati yaiku urip sing tan keno pati". (hidup yang sejati itu adalah hidup yang tidak bisa terkena kematian). Ya, kita semua bakal hidup sejati. Tetapi permasalahan yang muncul adalah, siapkah kita menghadapi hidup yang
sejati jika kita senantiasa berpegang teguh pada kehidupan di dunia yang serba fana?

Ajaran para leluhur juga menjelaskan:
"Tangeh lamun siro bisa ngerti sampurnaning pati,
yen siro ora ngerti sampurnaning urip."

(mustahil kamu bisa mengerti kematian yang sempurna,
jika kamu tidak mengerti hidup yang sempurna).

Oleh karena itu, kita wajib untuk menimba ilmu agar hidup kita menjadi sempurna dan mampu meninggalkan alam dunia ini menuju ke kematian yang sempurna pula.

PUASA ALA KEJAWEN


Puasa dan tapa adalah dua hal yang sangat penting bagi peningkatan spiritual seseorang. Disemua ajaran agama biasanya disebutkan tentang puasa ini dengan berbagai versi yang berbeda. Menurut sudut pandang spiritual metafisik, puasa mempunyai efek yang sangat baik dan besar terhadap tubuh dan fikiran. Puasa dengan cara supranatural mengubah sistem molekul tubuh fisik dan eterik dan menaikkan vibrasi/getarannya sehingga membuat tubuh lebih sensitif terhadap energi/kekuatan supranatural sekaligus mencoba membangkitkan kemampuan indera keenam seseorang.


Apabila seseorang telah terbiasa melakukan puasa, getaran tubuh fisik dan eteriknya akan meningkat sehingga seluruh racun,energi negatif dan makhluk eterik negatif yang ada didalam tubuhnya akan keluar dan tubuhnya akan menjadi bersih. Setelah tubuhnya bersih maka roh-roh suci pun akan datang padanya dan menyatu dengan dirinya membantu kehidupan nya dalam segala hal.


Didalam peradaban/tradisi pendalaman spiritual ala kejawen, seorang penghayat kejawen biasa melakukan puasa dengan hitungan hari tertentu (biasanya berkaitan dengan kalender jawa). Hal tersebut dilakukan untuk menaikkan kekuatan dan kemampuan spiritual metafisik mereka dan untuk memperkuat hubungan mereka dengan saudara kembar gaib mereka yang biasa disebut SADULUR PAPAT KALIMA PANCER.

Apapun nama dan pelaksanaan puasa, bila puasa dilakukan dengan niat yang tulus, maka tak mungkin akan membuat manusia yang melakoninya celaka. Bahkan medis mampu membuktikan betapa puasa memberikan efek yang baik bagi tubuh, terutama untuk mengistirahatkan oragan-oragan pencernaan.

Intinya adalah ketika seseorang berpuasa dengan ikhlas, maka orang tersebut akan terbersihkan tubuh fisik dan eteriknya dari segala macam kotoran. Ada suatu konsep spiritual yang berbunyi “matikanlah dirimu sebelum engkau mati”, arti dari konsep tersebut kurang lebih kalau kita sering ‘menyiksa’ tubuh maka jiwa kita akan menjadi kuat. Karena yang hidup adalah jiwa, raga akan musnah suatu saat nanti. Itulah sedikit konsep spiritual jawa yang banyak dikenal.

Para penghayat kejawen telah ‘menemukan’ metode-metode untuk membangkitkan spirit kita agar kita menjadi manusia yang kuat jiwanya dan luas alam pemikirannya, salah satunya yaitu dengan menemukan puasa-puasa dengan tradisi kejawen. Atas dasar konsep ‘antal maut qoblal maut’ diatas puasa-puasa ini ditemukan dan tidak lupa peran serta para ghaib, arwah leluhur serta roh-roh suci yang membantu membimbing mereka dalam peningkatan spiritualnya.

Macam-macam puasa ala Kejawen :

1. Mutih
Dalam puasa mutih ini seseorang tdk boleh makan apa-apa kecuali hanya nasi putih dan air putih saja. Nasi putihnya pun tdk boleh ditambah apa-apa lagi (seperti gula, garam dll.) jadi betul-betul hanya nasi putih dan air puih saja. Sebelum melakukan puasa mutih ini, biasanya seorang pelaku puasa harus mandi keramas dulu sebelumnya dan membaca mantra ini : “niat ingsun mutih, mutihaken awak kang reged, putih kaya bocah mentas lahirdipun ijabahi gusti allah.”

2. Ngeruh
Dalam melakoni puasa ini seseorang hanya boleh memakan sayuran / buah-buahan saja. Tidak diperbolehkan makan daging, ikan, telur dsb.

3. Ngebleng
Puasa Ngebleng adalah menghentikan segala aktifitas normal sehari-hari. Seseorang yang melakoni puasa Ngebleng tidak boleh makan, minum, keluar dari rumah/kamar, atau melakukan aktifitas seksual. Waktu tidur-pun harus dikurangi. Biasanya seseorang yang melakukan puasa Ngebleng tidak boleh keluar dari kamarnya selama sehari semalam (24 jam). Pada saat menjelang malam hari tidak boleh ada satu lampu atau cahaya-pun yang menerangi kamar tersebut. Kamarnya harus gelap gulita tanpa ada cahaya sedikitpun. Dalam melakoni puasa ini diperbolehkan keluar kamar hanya untuk buang air saja.

4. Pati geni
Puasa Patigeni hampir sama dengan puasa Ngebleng. Perbedaanya ialah tidak boleh keluar kamar dengan alasan apapun, tidak boleh tidur sama sekali. Biasanya puasa ini dilakukan sehari semalam, ada juga yang melakukannya 3 hari, 7 hari dst. Jika seseorang yang melakukan puasa Patigeni ingin buang air maka, harus dilakukan didalam kamar (dengan memakai pispot atau yang lainnya). Ini adalah mantra puasa patigeni : “niat ingsun patigeni, amateni hawa panas ing badan ingsun, amateni genine napsu angkara murka krana Allah taala”.

5. Ngelowong
Puasa ini lebih mudah dibanding puasa-puasa diatas Seseorang yang melakoni puasa Ngelowong dilarang makan dan minum dalam kurun waktu tertentu. Hanya diperbolehkan tidur 3 jam saja (dalam 24 jam). Diperbolehkan keluar rumah.

6. Ngrowot
Puasa ini adalah puasa yang lengkap dilakukan dari subuh sampai maghrib. Saat sahur seseorang yang melakukan puasa Ngrowot ini hanya boleh makan buah-buahan itu saja! Diperbolehkan untuk memakan buah lebih dari satu tetapi hanya boleh satu jenis yang sama, misalnya pisang 3 buah saja. Dalam puasa ini diperbolehkan untuk tidur.

7. Nganyep
Puasa ini adalah puasa yang hanya memperbolehkan memakan yang tidak ada rasanya. Hampir sama dengan Mutih , perbedaanya makanannya lebih beragam asal dengan ketentuan tidak mempunyai rasa.

8. Ngidang
Hanya diperbolehkan memakan dedaunan saja, dan air putih saja. Selain daripada itu tidak diperbolehkan.

9. Ngepel
Ngepel berarti satu kepal penuh. Puasa ini mengharuskan seseorang untuk memakan dalam sehari satu kepal nasi saja. Terkadang diperbolehkan sampai dua atau tiga kepal nasi sehari.

10. Ngasrep
Hanya diperbolehkan makan dan minum yang tidak ada rasanya, minumnya hanya diperbolehkan 3 kali saja sehari.

11. Senin-kamis
Puasa ini dilakukan hanya pada hari senin dan kamis saja seperti namanya. Puasa ini identik dengan agama islam. Karena memang Rasulullah SAW menganjurkannya.

12. Wungon
Puasa ini adalah puasa pamungkas, tidak boleh makan, minum dan tidur selama 24 jam.

13. Tapa Jejeg
Tidak duduk selama 12 jam

14. Lelono
Melakukan perjalanan (jalan kaki) dari jam 12 malam sampai jam 3 subuh (waktu ini dipergunakan sebagai waktu instropeksi diri).

15. Kungkum
Kungkum merupakan tapa yang sangat unik. Banyak para pelaku spiritual merasakan sensasi yang dahsyat dalam melakukan tapa ini. Tatacara tapa Kungkum adalah sebagai berikut :
a) Masuk kedalam air dengan tanpa pakaian selembar-pun dengan posisi bersila (duduk)
didalam air dengan kedalaman air se tinggi leher.
b) Biasanya dilakukan dipertemuan dua buah sungai
c) Menghadap melawan arus air
d) Memilih tempat yang baik, arus tidak terlalu deras dan tidak terlalu banyak
lumpur didasar sungai
e) Lingkungan harus sepi, usahakan tidak ada seorang manusiapun disana
f) Dilaksanakan mulai jam 12 malam (terkadang boleh dari jam 10 keatas) dan
dilakukan lebih dari tiga jam (walau ada juga yang memperbolehkan pengikutnya
kungkum hanya 15 menit).
g) Tidak boleh tertidur selama Kungkum
h) Tidak boleh banyak bergerak
i) Sebelum masuk ke sungai disarankan untuk melakukan ritual pembersihan (mandi dulu)
j) Pada saat akan masuk air baca mantra ini :
“Putih-putih mripatku Sayidina Kilir, Ireng-ireng mripatku Sunan Kali Jaga, Telenging mripatku Kanjeng Nabi Muhammad.”
k) Pada saat masuk air, mata harus tertutup dan tangan disilangkan di dada
l) Nafas teratur
m) Kungkum dilakukan selama 7 malam biasanya

16. Ngalong
Tapa ini juga begitu unik. Tapa ini dilakuakn dengan posisi tubuh kepala dibawah dan kaki diatas (sungsang). Pada tahap tertentu tapa ini dilakukan dengan kaki yang menggantung di dahan pohon dan posisi kepala di bawah (seperti kalong/kelelawar). Pada saat menggantung dilarang banyak bergerak. Secara fisik bagi yang melakoni tapa ini melatih keteraturan nafas. Biasanya puasa ini dibarengi dengan puasa Ngrowot.

17. Ngeluwang
Tapa Ngeluwang adalah tapa paling menakutkan bagi orang-orang awam dan membutuhkan keberanian yang sangat besar. Tapa Ngeluwang disebut-sebut sebagai cara untuk mendapatkan daya penglihatan gaib dan menghilangkan sesuatu. Tapa Ngeluwang adalah tapa dengan dikubur di suatu pekuburan atau tempat yang sangat sepi. Setelah seseorang selesai dari tapa ini, biasanya keluar dari kubur maka akan melihat hal-hal yang mengerikan (seperti arwah gentayangan, jin dlsb). Sebelum masuk kekubur, disarankan baca mantra ini :
“ Niat ingsun Ngelowong, anutupi badan kang bolong siro mara siro mati, kang ganggu maang jiwa insun, lebur kaya dene banyu krana Allah Ta’ala.”

Dalam melakoni puasa-puasa diatas, bagi pemula sangatlah berat jika belum terbiasa. Oleh karena itu disini akan dibekali dengan ilmu lambung karang. Ilmu ini berfungsi untuk menahan lapar dan dahaga. Dengan kata lain ilmu ini dapat sangat membantu bagi oarang-orang yang masih ragu-ragu dalam melakoni puasa-puasa diatas. Selain praktis dan mudah dipelajari, sebenarnya ilmu lambung karang ini berbeda dengan ilmu-ilmu lain yang kebanykan harus ditebus/dimahari dengan puasa. Selain itu syarat atau cara mengamalkannyapun sangat mudah, yaitu :
1. Mandi keramas/jinabat untuk membersihkan diri dari segala macam kekotor
2. Menjaga hawa nafsu.
3. Baca mantra lambung karang ini sebanyak 7 kali setelah shalat wajib 5 waktu, yaitu :
Bismillahirrahamanirrahim
Cempla cempli gedhene
Wetengku saciplukan bajang
Gorokanku sak dami aking
Kapan ingsun nuruti budine
Aluamah kudu amangan wareg
Ngungakna mekkah madinah
Wareg tanpa mangan
Kapan ingsun nuruti budine
Aluamah kudu angombe
Ngungakna segara kidul
Wareg tanpa angombe
Laailahaillallah Muhammad Rasulullah

Selain melakoni puasa-puasa diatas masyarakat kejawen juga melakukan puasa-puasa yang diajarkan oleh agama islam, seperti puasa ramadhan, senin kamis, puasa 3 hari pada saat bulan purnama, puasa Nabi Daud AS dll. Inti dari semua lakon mereka tujuannya hanya satu yaitu mendekatkan diri dengan Allah SWT agar diterima iman serta islam mereka.

MELIHAT AURA DIRI

Ini ada sedikit "cara" agar kita bisa melihat aura diri atau orang lain dan juga berfungsi untuk menajamkan mata bathin serta kekuatan pikiran. ( Lintas Agama )
Caranya :



Siapkan sebatang lilin, lalu nyalakan diruangan gelap ( dalam kamar asal jgn dikamar mandi bro :p )
Posisi lilin sejajar dgn mata. ( Duduk bersila ).
Awal "latihan"...tarik nafas sambil baca doa memohon kpd Yang Kuasa 3X...kemudian tahan nafas lalu keluarkan perlahan. ( Metode pernafasan piramida ).
Konsentrasi penuh dan slalu memohon pada Yang KUasa. Tataplah nyala lilin tsb yang berwarna biru (ditengah / ujung sumbu lilin ). Tatap terus dan jangan berkedip semaksimalnya. Untuk Tahap Awal lakukanlah selama 30 menit. Diusahakan mata jangan sampai berkedip. Perlahan dan pasti anda akan melihat perubahan warna dililin tsb. Lakukan terus menerus. Dan diakhiri dgn doa memohon kepda Yang Kuasa sambil tangan dibasuh kewajah sebanyak 3 kali.
Ingat konsentrasi dan keyakinan penuh. Bila anda sudah berhasil melihat minimal 5 warna dari 7 warna yang ada, mudah2an anda sudah bisa melihat aura sendiri atau org laen. 

Jumat, 05 Juli 2019

Temu itungan soko 1 0 1

Gusti pepering Ruh dening Manungsa, sak jroning Ruhmu iku ana Sukma, Sakjroning Sukmamu ana Nyawa, sakjroning Nyawamu ana Rasa, sakjroning Rasamu ana Rahsa / Sirrullah, sakjroning Rahsamu ana Dzatullah, sakjroning Dzatullahmu ana Allah
Allah memberikan Roh pada Manusia, didalam Ruhmu itu ada Sukma, didalam Sukmamu itu ada Nyawa, didalam Nyawamu itu ada Rasa, didalam Rasamu itu ada Rahsa, didalam Rahsamu itu ada Dzatullah, didalam Dzatullahmu itu ada Allah.
Usrege ndonya iku sejatine mung sakecape lambe yoiku KAREP ananging tentreming ndonya iku uga sakecape lambe yoiku ELING, lelakua nganggo kekarepanmu ananging tetekena nganggo Elingmu.( Kesemrawutan dunia ini itu sebenarnya Cuma sekecap bibir saja yaitu Ingin, tetapi tentramnya dunia ini sebetulnya juga sekecap bibir saja yaitu Ingat, berjalanlah dengan keinginanmu tetapi pakailah dengan tongkat keingatanmu ).
Artinya : Jika anda memiliki suatu keinginan silahkan jalankan jika itu sudah sesuai dengan kekuatanmu agar tidak memeras akal pikiran maupun tenaga, yang akhirnya akan menjerumuskan dalam penyimpangan Jalan Allah.


Dalam falsafah Jawa ini yg disebut "Nang-ning-nung -neng-nong (atau Gung, kalau tamatan)" : 1. Menang : menang terhadap ilusi, menembusi awan2 kegelapan batin. 2. Wening : bening. Batin yang hening bening 3. Dunung : calm-abiding (apa bahasa Indonesianya? nyantai?...nyante opo nyate?? hehe...ini yg sering disalahartikan!) 4. Meneng : ketenangan. Tranquility of mind (sering dikelirumologi juga jadi : menengan / ngambegan hehe). 5. Winong : ngemong dengan kepekaan, compassion (sama juga sering diplesetin jadi galau man alias tersinggungan hehe). Kalau tamat ya "Gung" alias Agung atau "dadi Gunungan" atau meliputi seluruh semesta (mrica binubut angebaki jagad) . Tanpa dijelaskan rasanya sudah pada ngerti. Untuk menjelaskan secara detail memang belum memungkinkan. Itulah yg disebut winingit....alias winoyo pasingitan (vinaya merahasiakan). Dirahasiakan bukan karena pelit atau melanggar norma, tetapi karena tanpa tataran dasar yang benar (pondasi) maka keliru menangkap justru akan merugikan / membahayakan masyarakat sendiri. (Apalagi banyak "serigala penyesat" yg bekeliaran mencari celah kesempatan).



Setelah membahas tentang makna dibalik bunyi nang, ning, nung, neng, gung, mari sekali lagi kita mengupas tentang keilmuan Jawa. Disini bukan berarti untuk menonjolkan salah satu suku yang ada di Nusantara, tetapi sekedar untuk bahan introspeksi dan motivasi diri, bahwa bangsa kita bukanlah bangsa pinggiran. Bangsa kita tetaplah bangsa yang besar, hebat dan memiliki peradaban yang tinggi. Hal itu bisa dibuktikan dengan pemahaman filosofi yang dimilikinya, khususnya pada masyarakat Jawa. Untuk mempersingkat waktu, berikut ini saya ingin mengajak Anda sekalian untuk sedikit sinau (belajar) tentang angka dan bilangan Jawa. Mengapa begitu? Itu lantaran orang Jawa sudah mampu “menyelipkan” pesan moral dan tuntunan hidup yang baik bahkan pada bilangan angkanya. Untuk membuktikannya, mari ikuti penelusuran berikut ini: Angka dan bilangan biasanya digunakan sebagai bahasa untuk menyebutkan tentang jumlah ukuran dan yang lainnya. Salah satu penyebutan angka dan bilangan yang tergolong unik adalah yang dimiliki oleh masyarakat Jawa. Kenapa unik? Itu karena ada beberapa misteri dan arti yang terkandung dalam cara penyebutannya, terutama tentang hubungannya dengan umur seseorang. Wahai saudaraku. Dalam bahasa Jawa juga terdapat penyimpangan pola penamaan bilangan yang konon memiliki falsafah yang amat mendalam jika dikaitkan dengan usia seseorang. Dan jika dicermati dengan seksama, penyimpangan ini memang berbeda dari lazimnya penyebutan angka-angka di kepulauan Melayu khususnya atau Nusantara pada umumnya. Penyimpangan tersebut terjadi mulai dari beberapa angka belasan hingga sampai pada angka 60. Hal ini semakin menguatkan dugaan bahwa penyebutan tersebut memang erat kaitannya dengan usia manusia, mengingat di usia 60-an merupakan rata-rata panjang usia seseorang. 1. Angka dan bilangan 1-10 Dalam bahasa Jawa angka itu terurut mulai dari 1-0 dengan deretan; 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 0. Kesepuluh angka tersebut lalu dilafalkan dengan istilah SIJI, LORO, TELU, PAPAT, LIMO, NEM, PITU, WOLU, SONGO, dan NUL. Deretan angka-angka ini memiliki makna yang mendalam, yang sejalan dengan makna kehidupan umat manusia. Adapun makna dari setiap angka 1-0 Jawa adalah sebagai berikut: 1 (Siji/Setunggal) = Esa + Eka + Ika + Tunggal (Keagungan Tuhan), Manunggal (menyatu), Wiwitan +Kawitan (awal, pertama), Bhumi + Buana (Bumi), Surya (Matahari), Candra (Bulan), Ratu (pemimpin), Negoro (negara), dll. 2 (Loro/Roro/Kalih/Rwa) = Dwi (dua yang menyatu/ keseimbangan), Tengen (tangan), Sikil (kaki), Kuping (telinga), Mripat (mata), Netra (penglihatan), Panembah (menghormati), Bekti (pengabdian), dll. 3 (Telu/Tigo/Tri) = Tri (tiga kehidupan; Alam Ruh/ Kandungan, Duniawi, Akherat), Krida (olah, perbuatan, tindakan), Gebyar (semarak, meriah, gemerlapan, berarti), dll. 4 (Papat/Sekawan) = Catur (kreatifitas, kecerdasan), Kerta (kemenangan), dll. 5 (Limo/Gangsal) = Panca (kekuatan diri), Astra (kesaktian), Tumata (tertata, teratur), dll. 6 (Nem) = Rasa (empati, simpati), Sad (kesederhanaan), Bremana (arif, bijaksana), Anggata (terpelajar, berilmu), dll. 7 (Pitu) = Sapta (hukum), Sinangga (menjaga/ menjunjung tinggi drajat dan kehormatan), dll. 8 (Wolu) = Asta (kebajikan), Manggala (terhormat, pembesar), Salira (bentuk, wujud), Naga (simbol kewibawaan), dll. 9 (Songo) = Nawa (semangat dan simbol kemuliaan), Hanggatra (kesempurnaan), Bunga (keindahan), dll. 0 (Nul) = Ilang (hilang), Sirna (musnah), Sonya (kosong), Hening (tidak ada apa-apa), Pungkasan (akhir) dll. Selain angka-angka di atas, ada bilangan 10 yang biasa disebut dengan SEPULUH atau SEDOSO. Bilangan ini dalam bahasa Jawa juga memiliki makna yang mendalam. Bilangan ini pun terdiri dari gabungan angka 1 (SIJI) yang berarti awal, dan angka 0 (NUL) yang berarti akhir. Tidak ada angka lain sebelum angka 1 (SIJI) dan tidak ada angka lain pula sesudah angka 0 (NUL), karena sesudah itu akan kembali lagi ke 1 (SIJI), tidak ada angka yang baru lagi. Angka 1 (SIJI) berbicara tentang hakekat Tuhan, sedangkan angka 0 (NUL) berbicara tentang pengosongan diri. Angka 10 ini adalah lambang dari segala kesempurnaan dan kehendak Tuhan. Dan sesungguhnya nilai daripada kesempurnaan itu pun adalah 10. Sehingga segala sesuatu yang ada dibawah kolong langit ini jika kita mampu menyebutkan semuanya, itu hanya akan berarti kosong, tidak akan berarti apa-apa dihadapan Tuhan. Sehingga bila kita berada didepan pribadi Tuhan yang disimbolkan dengan angka 0-1, maka kita tidak berarti apa-apa. Kita baru akan berarti saat kita mau menempatkan pribadi Tuhan itu didepan kita sebagai pemimpin (1-0). Dan dunia ini tidak akan berarti apa-apa pula jikalau dia menempatkan kedaulatan Tuhan itu dibelakang kehidupannya. Karena itulah orang Jawa yang sejati sudah meletakkan angka 0 (NUL) itu bukanlah di awal deretan angka, tetapi justru di urutan terakhir setelah angka 9 (SONGO). Artinya, orang Jawa sudah mengerti bahwa mereka hanyalah makhluk yang fana dan tidak berarti apa-apa bila tak mengikuti kehendak Tuhan. Mereka pun harus hidup dengan mengedepankan aturan Tuhan yang disimbolkan dalam angka 1 (SIJI) sebagai pemimpin dan pembimbing hidupnya. Sementara mereka hanyalah makhluk yang fana, tidak berarti apa-apa, bahkan sirna dihadapan Sang Maha Esa. Ini sangat berbeda dengan prinsip orang Barat yang justru kebalikannya. Mereka meletakkan angka 0 itu di depan angka 1. Secara tersirat artinya mereka meletakkan Tuhan itu dibelakang makhluk, begitupun dengan aturan-Nya bahkan tidak digunakan dalam menata kehidupan sehari-hari, dan sayangnya lagi bangsa kita ini pun ikut-ikutan pola numerik bangsa Barat ini, yang jelas-jelas tidak sesuai lagi dengan prinsip keimanan dan ketauhidan yang sejati kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Yang sejak dahulu kala sudah diwariskan oleh para leluhur kita. Oleh karena itu sejak awal kehidupan hingga saat ini tetap tergantung kepada dunia juga tentunya umat manusia apakah mereka mau memiliki arti ataukah tidak dalam hidupnya. Dan hanya dengan menjadikan pribadi Tuhan itu sebagai yang no 1 sebagai Diri Pribadi yang terdepan saja, maka manusia pun akan memiliki arti di dalam kehidupan yang sesungguhnya kosong tidak berarti apa-apa ini. Sebaliknya, jika bangsa ini masih saja tidak mengikuti pakem (pedoman utama) yang bijak dari para leluhur – dengan tetap saja meletakkan urutan angka itu mulai dari 0-9 – maka hidup bangsa ini akan terus mengikuti aturan dan kehendak manusia yang jelas kelirunya, bukan Tuhan. Itu artinya, bangsa ini memang sejak awal sudah ingin hancur atau bahkan dihancurkan. Untuk bisa selamat, maka harus kembali menggunakan deretan angka yang sesuai dengan pakem Jawa (1,2,3,4,5,6,7,8,9,0). Ini memang terlihat sepele, tapi sadarlah bahwa menyepelekan sesuatu yang kecil tapi sebenarnya sangat penting akan mendatangkan malapetaka. 2. Angka dan bilangan 11-19 Dalam bahasa Jawa, angka 11 tidak disebut sebagai “sepuluh siji”, 12 bukan “sepuluh loro”, 13 pun bukan “sepuluh telu” dan seterusnya hingga angka 19 yang tidak disebut sebagai “sepuluh songo”. Namun, angka 11 disebut sebagai “SEWELAS“, 12 disebut sebagai “ROLAS” dan seterusnya hingga 19 yang disebut dengan “SONGOLAS” dan 20 disebut KALIHDOSO (kalih = dua, doso = sepuluh/puluh). Apa makna dibalik semua ini? Mengapa sepuluhan diganti dengan welasan? Filosofinya adalah bahwa pada usia ke-11 tahun hingga 19 tahun adalah saat-saat berseminya rasa welas asih (kasih sayang) dan cinta pada jiwa seseorang, terutama terhadap lawan jenis. Itulah usia dimana seseorang telah memasuki masa akil baligh, masa remaja. Sementara dalam banyak bahasa, bilangan 11 hingga 19 memang diberi nama dengan pola yang berbeda. Dalam bahasa Indonesia disebut dengan belasan. Sedangkan dalam bahasa Inggris disebut dengan teen, sehingga para remaja pada usia tersebut disebut teenagers yang berarti remaja. 3. Angka dan bilangan 21-29 Setelah welasan, bilangan 21 hingga 29 dalam bahasa Jawa juga dinamakan berbeda dengan pola umum yang ada. Dalam bahasa lain biasanya sesuai pola. Misal dalam bahasa Indonesia diucapkan dua puluh satu, dua puluh dua, dan begitu seterusnya hingga dua puluh sembilan. Namun dalam bahasa Jawa tidak demikian, angka ke-21 tidak disebut sebagai “rongpuluh siji’, 22 tidak disebut “rongpuluh loro”, dst, melainkan 21 disebut SELIKUR, 22 disebut ROLIKUR, dan seterusnya hingga 29 yang disebut SONGGOLIKUR, kecuali angka 25 yang disebut sebagai SELAWE. Di sini terdapat satuan “LIKUR” yang tidak lain merupakan singkatan dari “Lingguh kursi” (duduk di kursi). Karena itulah, makna yang bisa diambil disini adalah bahwa pada usia ke 21-29 itulah manusia umumnya mendapatkan “Tempat duduk/kedudukan”, pekerjaan, profesi yang akan ditekuni dalam kehidupannya sehari-hari. Sementara pesan moralnya adalah bahwa kita harus tetap semangat dan giat bekerja demi masa depan yang cemerlang. Selain itu, kita harus bisa memilah mana urusan/pekerjaan yang halal dan mana pula yang haram. Pilihlah yang halal saja, karena itu bisa membuat hidup kita menjadi tenang, bahagia dan selamat dunia akherat. Selanjutnya, yang lebih menarik adalah pada bilangan ke 25 yang disebut SELAWE. Ini adalah satu penyimpangan yang diambil dari singkatan; seneng- senenge lanang lan wedok (senang-senangnya pria dan wanita). Disini artinya adalah saat puncak asmara antara laki-laki dan wanita yang ditandai dengan pernikahan. Karena itu, pada usia tersebut umumnya orang akan dadi manten atau menikah dan berolah asmara. Memang tidak semua orang menikah pada usia tersebut, tapi jika dirata-ratakan, memang di antara usia 21-29 itulah orang banyak yang menikah. Pada saat kedudukan sudah diperoleh, pada saat itulah seseorang siap untuk menikah. 4. Angka dan bilangan 50 Dari angka 30 hingga 49, penamaan bilangan dibaca normal sesuai pola urutan, misalnya TELUNG PULUH, PATANG PULUH, dst. Tapi ada penyimpangan lagi nanti pada bilangan ke 50. Mestinya, bilangan ini disebut dengan “limang puluh”, namun sebutan populernya tidaklah demikian. Bilangan 50 itu dalam bahasa Jawa disebut dengan istilah SEKET. Apa makna dibalik semua ini? Konon SEKET itu merupakan singkatan dari kalimat “Seneng kethunan” (suka memakai kethu/peci/kopiah/tutup kepala). Hal ini menandakan usia seseorang semakin lanjut, dan tutup kepala merupakan lambang dari semua itu. Disisi lain bisa juga sebagai simbol orang yang seharusnya sudah lebih taat beribadah. Dan pada usia ke 50-an tahun mestinya seseorang itu sudah lebih banyak beribadah dan senang berbagi untuk bekal dalam memasuki kehidupan yang abadi nanti (akherat). 5. Angka dan bilangan 60 Selanjutnya, ada satu bilangan lagi yaitu 60 yang penyebutannya juga menyimpang dari pola. Itu terbukti karena disini bukan disebut “nem puluh”, melainkan SEWIDAK atau SUWIDAK. SEWIDAK ini berarti “Sejatine wis wayahe tindak (sesungguhnya sudah sepantasnya pergi). Jadi pesan moral yang bisa diambil dari bilangan ke 60 Jawa ini adalah bahwa di usia ke 60-an seseorang itu sudah memasuki usia lanjut yang semestinya sudah matang, lebih berhati- hati dalam hidup dan tentu saja semakin banyaklah bersyukur, karena usia selebihnya hanyalah bonus dari Yang Maha Kuasa. Dan yang terakhir, diusia yang ke 60-an ini, seseorang itu sudah harus bersiap-siap untuk pergi meninggalkan dunia fana ini – tentunya sudah lebih dulu mengumpulkan bekal untuk perjalanan di akherat. Karena memang biasanya manusia itu wafat diusia ke 60-an tahun. Wahai saudaraku. Demikianlah sekilas tentang makna dan filosofi di balik deretan angka dan bilangan dalam bahasa Jawa. Jika kita cermati secara seksama, maka sekali lagi kita bisa mendapatkan pengetahuan bahwa leluhur kita dulu memanglah orang-orang yang hebat. Mereka adalah pribadi yang cerdas, sangat arif dan bijaksana, karena demi kebaikan dan keselamatan anak cucunya, mereka telah sudi menurunkan pesan moral yang berharga di dalam setiap angka dan bilangan yang ada. Mereka tidak sembarangan dalam hal ini, karena tentunya sudah melalui banyak renungan, pengalaman dan bimbingan dari Yang Maha Kuasa.


Dalam tingkat Manembahing Kawula Gusti itu terbagi menjadi 3 unsur yaitu :Hubungan antara Aku dengan Allah maka akan timbul Iman, Hubungan Aku dan sesama Manusia lain akan timbul Budi Pekerti, serta Hubungan antara Aku dan Alam akan timbul Cipta, Rasa dan Karsa,
Cipta Rasa dan Karsa akan dikupas pada tingkat Manunggaling Kawula Gusti, sedangkan pada Leburing Kawula Gusti akan dibahas tentang sikap berpasrah diri pada Allah dalam menjemput kematian manusia itu sendiri yang disebutnya dengan Ilmu Kasampurnan.



BISMILLAHI ROHMANI ROKHIM..

."biso niro mijil lahir karono manunggal iro roh mani,dunung iro ana rahim,kanthi lantaran iro bapa ibu,ujut aku dadi anak manungso (ADAM)"Dalam sel mani terdapat jiwa dari Bapa Angkasa, dalam sel telur terkandung wadah bagi jiwa yang tersusun dari unsur-unsur alam dari Ibu Bumi.
Maka, leluhur pun memuja lingga, yang melambangkan Bapa Angkasa, dan yoni, yang melambangkan Ibu Bumi. Memuja lingga-yoni sejatinya adalah berbakti pada kedua orang tua kita,jalan paling nyata untuk memuja Tuhan. Lingga-yoni itulah pengejawantahan Tuhan di jagat dualitas. Dia yang semula Suwung mengejawantah menjadi Kuasa Lanang dan Kuasa Wadon: Bapa Angkasa dan Ibu Bumi.
Mempelajarinya atas dasar kesadaran bahwa leluhur Nusantara mampu mencapai puncak kejayaan ketika mereka menguasai SETIA JATI.
Puncak ajaran spiritual adalah yang mengungkap rahasia jiwa dan jagat raya, sekaligus cara untuk menyempurnakan jiwa hingga mampu kembali kepada Sangkan Paraning Dumadi: Tuhan. Ia yang menguasai Sastrajendra adalah manusia sejati yang sanggup hamemayu hayuning bawana ambrasta dur angkara (memperindah jagat raya dan memberantas angkara murka).
SETIA HATI hanya bisa dikuasai oleh pribadi yang telah bertekad kuat untuk meruwat jiwa-raganya dari diyu (watak angkara murka) dan terhubung dengan Guru Sejati atau Sang Dewa Ruci (roh suci)yang bertakhta di pusat hati. Ketika seseorang telah terhubung dengan Guru Sejati, ia akan mampu mendayagunakan rasa sejati sebagai perangkat kecerdasan utama di dalam diri sehingga memiliki kuasa untuk memulihkan Ibu Pertiwi yang tengah terluka oleh anak-anaknya sendiri..
.

Mijil adam

BISMILLAHI ROHMANI ROKHIM..

."biso niro mijil lahir karono manunggal iro roh mani,dunung iro ana rahim,kanthi lantaran iro bapa ibu,ujut aku dadi anak manungso (ADAM)"Dalam sel mani terdapat jiwa dari Bapa Angkasa, dalam sel telur terkandung wadah bagi jiwa yang tersusun dari unsur-unsur alam dari Ibu Bumi.
Maka, leluhur pun memuja lingga, yang melambangkan Bapa Angkasa, dan yoni, yang melambangkan Ibu Bumi. Memuja lingga-yoni sejatinya adalah berbakti pada kedua orang tua kita,jalan paling nyata untuk memuja Tuhan. Lingga-yoni itulah pengejawantahan Tuhan di jagat dualitas. Dia yang semula Suwung mengejawantah menjadi Kuasa Lanang dan Kuasa Wadon: Bapa Angkasa dan Ibu Bumi.
Mempelajarinya atas dasar kesadaran bahwa leluhur Nusantara mampu mencapai puncak kejayaan ketika mereka menguasai SETIA JATI.
Puncak ajaran spiritual adalah yang mengungkap rahasia jiwa dan jagat raya, sekaligus cara untuk menyempurnakan jiwa hingga mampu kembali kepada Sangkan Paraning Dumadi: Tuhan. Ia yang menguasai Sastrajendra adalah manusia sejati yang sanggup hamemayu hayuning bawana ambrasta dur angkara (memperindah jagat raya dan memberantas angkara murka).
SETIA HATI hanya bisa dikuasai oleh pribadi yang telah bertekad kuat untuk meruwat jiwa-raganya dari diyu (watak angkara murka) dan terhubung dengan Guru Sejati atau Sang Dewa Ruci (roh suci)yang bertakhta di pusat hati. Ketika seseorang telah terhubung dengan Guru Sejati, ia akan mampu mendayagunakan rasa sejati sebagai perangkat kecerdasan utama di dalam diri sehingga memiliki kuasa untuk memulihkan Ibu Pertiwi yang tengah terluka oleh anak-anaknya sendiri..
.

Senin, 01 Juli 2019

COKRO GENI

Senam
1,3,4,5,6,7,8,9,10, pernafasan dasar...5x pengulangan

2. Tunggal dada maksimal 5x pengulangan

11. Pernafasan ,3 ruang atas bawah atas 10 deting setiap ruang 5x pengulangan

12,13 ,14 ,16pernafasan tunggal atas maksimal 5x pengulangan

15 pernafasan  tunggal bawah pusat maksimal 5x pengulangan

17 pernafasan dasar 5ruang  3x pengulangan


18 meditasi ,pernapasan netral ..

Gerbo bumi

Garbo bumi amat karat ratu buyut kebuyuten ratu tuo seng nguasai bumi jawi lan bumi .... kang tut no tingkah laku ku karat solollahualaihiwa...